Pages

Subscribe:

Monday, 23 March 2020

PRO KONTRA IBADAH ONLINE

    Sejak pidato Presiden RI, Joko Widodo  di Istana Bogor, Jawa Barat pada pertengahan Maret 2020 lalu,  yang menyatakan belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa, kerja dari rumah dengan online dengan tetap mengutamakan pelayanan prima bagi masyarakat.serta meminta masyarakat agar menunda kegiatan-kegiatan yang melibatkan peserta yang banyak orangnya.
     Pernyataan presiden tersebut mendapat respon dari  Gereja. Dan akhirnya, munculah wacana ibadah online pada sebagian gereja di Jakarta, Malang, Yogyakarta dan Medan. Mereka mulai melakukan ibadah secara live streaming maupun dengan sistim recorded sermon. Sebagian jemaat Kristen memberikan respon positif atas ide tersebut, namun ada juga yang terkesan kurang setuju.
    “Sejak kemarin saya sudah mengedarkan himbauan kepada warga gereja untuk membatasi perjalanan dan perjumpaan yang tidak terlalu penting" ujar Pdt Gomar Gultom, Ketua Umum PGI. 
    Berkaitan dengan perkembangan terakhir dan upaya pencegahan pandemi Covid-19, pertemuan ibadah Jakarta Praise Community Church (JPCC) selama dua minggu ke depan  akan dialihkan menjadi ibadah online," tulis JPCC dalam akun Instagram resminya.
   Jemaat Kristen harus menjadi Terang dan Garam dunia. Membawa damai sejahtera bagi lingkungan sekitarnya,bukan jadi penyebar penyakit. Kalak singikutken Kristus maba pasu pasu man jelma sekelewetna, labo maba palu palu, ujar Pdt Dharma Ginting S.Pd dlm rekaman khotbahnya yang disiarkan melalui You Tube
      Pdt Dharma Ginting Spd dan khotbah recorded di You Tube


      Esensi ibadah adalah persekutuan" ujar seorang netizen menanggapi isu ibadah online." Lha kalo ibadah online dimana unsur persekutuannya ?
    "Kita tidak boleh takut sama virus!" tulis seorang You Tuber di sebuah akun You Tube,  karena seperti yang tertulis di Alkitab Matius 10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka),.
     "Kalo bikin ibadah online itu sama saja takut sama virus korona mau buka ayat dimana sja maknanya sama sja takut sama virus korona. Tidak Perlu takut karna Kristen yang sebenarnya Hidupnya sudah di tentukan oleh Tuhan seja dunia belum di jadikan, jdi saya tdk setuju ibadah online' demikian pendapatnya sambil mengutip ayat Mazmur 91:3-6,Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang"
     Yeah kalo menurut saya pribadi sih, apapun gereja kita, apapun denominasi gereja  kita....perlu diingat bahwa kita semua adalah satu tubuh."Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu " (1 Kor 10:17).  Janganlah kita saling menghakimi. Gereja yang satu menghakimi ibadah gereja lainnya. Merasa lebih ber-iman dari jemaat Kristen lainnya.
    Bukankah Yesus berkata dalam Mat 18:20," Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
    Perlu diingat, Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (Rom 13:1)

Selamat beribadah....Tuhan Yesus berkati, Shalom
-----------------------------------------------

Amsal 22:3“ Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka “

Friday, 13 March 2020

POHON ARA YANG TIDAK BERBUAH

Bacaaan: Matius 21 dan Markus 11

     Dalam kisah perjalanan Tuhan Yesus, ada tertulis kisah pohon ara yang tidak berbuah. Yang achirnya dikutuk Tuhan Yesus dan menjadi kering. Tertulis dalam kitab Matius 21 dan Markus 11,kisah pohon Ara yang tidak berbuah ini mengundang pertanyaan bila dicermati. Misalnya megapa Tuhan Yesus mencari buah ara, sementara saat itu belum musimnya.  "...Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara." (Mark 11:13) Yesus pasti paham siklus alam pohon ara karena Dia adalah Tuhan yang Mahatahu.
   Diceritakan, saat itu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan dari Betani ke Yerusalem. Di tengah jalan Dia merasa lapar. Lalu Yesus melihat sebuah pohon ara yang sudah berdaun, lalu Dia pun menghampiri pohon itu. Ia berharap kalau-kalau mendapat sesuatu yang bisa dimakan. Tetapi...alangkah kecewanya Yesus. Dia tidak mendapat  apapun pada pohon tersebut, kecuali hanya daun daun yang berserakan. Waktu itu memang bukan musim buah ara.  Biasanya menjelang musim buah ara, pohon ara akan mengeluarkan daun-daun dan putik-putik yang bentuknya menyerupai buah kecil. Putik-putik ini bisa dimakan dan akan gugur dengan sendirinya apabila buah ara mulai muncul. Putik putik inilah yang dicari Tuhan Yesus untuk dimakan. Tapi...apabila ada pohon ara yang tidak mengeluarkan putik, itu menandakan pohon ara itu tidak akan berbuah, sekalipun pada pohon itu berdaun lebat.
     Maka berkatalah Tuhan Yesus pada pohon ara itu:”Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Maka seketika itu juga, keringlah pohon ara itu. Para murid yang melihat kejadian itu menjadi tercengang.
                         

Gambar oleh Deedster dari Pixabay 

     Kisah pohon ara yang tidak berbuah ini sebenarnya mengandung makna simbolis. Pohon ara berdaun lebat itu maksudnya menunjukkan dari segi penampilan, pohon itu tergolong baik, subur dan indah dipandang mata........ tetapi tidak berbuah. Ini  adalah gambaran orang-orang yang rajin beribadah, tekun menjalankan aturan-aturan keagamaan, tetapi hidupnya tidak berbuah, tidak membawa berkat bagi sekelilingnya. 
     Sepintas kelihatannya saleh, tetapi kesalehannya itu kosong di mata Allah. Sebab ibadah sejati bukanlah soal menjalankan rangkaian aturan keagamaan, melainkan mencakup dalam hidup sehari-hari. Dalam pekerjaan, kehidupan sosial dan lain sebagainya.
     Itulah yang terjadi pada ibadah umat Israel pada zaman Yesus. Mereka hanya terpaku pada soal menjalankan aturan peraturan lahiriah semata tapi melupakan penerapannya. Praktek ibadah seperti inilah yang dilakukan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Dengan cerita Tuhan Yesus mengutuk pohon ara ini, para penulis Injil rupanya juga hendak mengoreksi praktek ibadah tersebut.
     Orang orang yang bermental 'pohon ara yang tidak berbuah', hingga kini sebenarnya masih sering kita jumpai. Sepintas mereka kelihatan rohani sekali: rajin dan taat melakukan acara dan aturan kegamaan, tetapi praktek kehidupan sehari-harinya penuh tipu daya dan kesewenangan. Di mulut senang menyebutkan nama Tuhan dan mengutip ayat ayat Alkitab, tetapi dalam hati dan pikiran yang penuh sumpah serapah.
     Berbeda dengan orang-orang yang aktif karena betul-betul mau melayani sebagai ungkapan syukurnya kepada Tuhan. Mereka biasanya tidak banyak bicara yang tidak perlu, karena memang tujuannya bukan untuk mencari nama. Tentu mereka juga punya pendapat dan keinginan, tetapi mereka akan menempatkannya dalam kerangka kepentingan orang banyak, bukan kepentingan diri sendiri. Mereka biasanya tidak segan segan untuk mengalah kalau memang perlu. Mereka selalu melihat orang-orang disekelilingnya dengan kacamata positif thinking. Kehadiran mereka selalu membawa berkat dan damai sejahtera. Ibarat lampu terang yang kehangatannya dapat dirasakan lingkungan sekitar. Ada rasa damai dan sukacita yang mereka bawa.

       Baca Juga: Kota Jericho dan Garam Dunia


     Hidup didalam Tuhan tidak cukup hanya bertumbuh dan berdaun lebat saja. Tapi kita harus menghasilkan buah. Hidup kita harus bisa menjadi berkat buat orang lain. Jika seseorang mengaku bahwa hidupnya sudah dipimpin oleh Tuhan, maka sudah seharusnya ia menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatannya. Tumbuhan yang dirawat, selalu diberi pupuk dan disiram, bukan hanya untuk menumbuhkan batang dan daunnya saja, namun juga untuk menghasilkan buah.  Firman Tuhan yang kita terima sebagai “makanan” bagi rohani dan jiwa kita, bukan hanya untuk membuat iman kita bertumbuh, namun berbuah juga. Dan buah itu... akan tercermin dalam tingkah laku kita.
     Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? tanya Yesus (Mat7:16)  Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik, ujar Tuhan Yesus, saat berkhotbah dibukit
   "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan," ujar Yohanes Pembaptis (Mat 3:8)."Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Selamat beraktiftas, Shalom...GBU

     

Thursday, 5 March 2020

VIRUS CORONA DAN ETIKA KRISTEN

  Etika Kristen adalah suatu cabang ilmu theologi yang membahas masalah tentang apa yang baik dari sudut pandang Kekristenan. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. 
   Apa hubungannya virus Corona dengan Etika Kristen ? Begini, beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo telah mengumumkan bahwa 2 warga negara Indonesia positif terinfeksi virus Corona Senin 2/2 kemarin. Berita ini langsung menjadi headline  di media media, baik media cetak maupun elektronik. Bahkan isu mengenai virus Corona langsung menjadi trending topic nomor satu di media sosial (medsos) berdasarkan hitungan Google. 


    
                                trending topic 2 Maret 2020 Google Trend

Riuhnya isu corona semakin melebar dan mulai merambah ke isu agama. Tokoh tokoh agama mulai berkomentar tentang maraknya virus ini.
     "Itu Tentara Allah", ujar seorang tokoh agama sembari menceritakan alasannya terkait perlakuan suatu negara terhadap etnis tertentu.
     "Tuhan akan membersihkan banyak dosa dari planet ini," kata Pendeta Rick Wiles seorang pendeta di AS. “Lihatlah Amerika Serikat, lihatlah pemberontakan rohani di negara ini, kebencian terhadap Tuhan, kebencian terhadap Alkitab, kebencian akan kebenaran," kata ujar pendeta tersebut.
    Akun akun Kristen di You Tube, juga gencar menyuarakan tentang  teguran Tuhan ini. Virus Corona diduga berasal dari kelelawar binatang haram menurut Taurat, ujar akun tersebut. Bukankah tertulis dalam kitab Imamat 11:13-19 " Inilah yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan,........bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar." demikian bunyi status akun tersebut.  Hmmm.....Sayapun manggut manggut.
   Setahu saya binatang yang diharamkan Tuhan dalam Taurat, bukan hanya binatang yang tertulis dalam kitab Imamat 11:13 saja. Sebab diayat sebelumnya Tuhan juga berkata " Segala yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air adalah kejijikan bagimu.' (Imamat 11:12) Berarti belut, ikan lele dan cumi cumi masuk kategori binatang haram.
 Lantas kenapa kita menghakimi penduduk Wuhan dengan alasan mengkonsumsi binatang haram, sementara kita mengkonsumsi belut goreng, pecel lele, cumi goreng dan sebagainya ? Disinilah peran Etika Kristen itu
    Kita tidak perlu ikut ikutan dalam pembodohan yang dilakukan oleh petinggi agama tersebut. Mereka mereka yang mengambil kesempatan atas penderitaan orang lain. Jangan mau dibodoh-bodohin oleh mereka yang berusaha menjajah kita dengan menggunakan isu agama. " Oh mereka itu sedang dihukum Tuhan dsb, dikit dikit karena hukuman Tuhan." 
     Mari kita hentikan budaya menghakimi !

Baca juga: Pohon Ara Yang Tidak Berbuah

GARAM DAN TERANG DUNIA
     Tuhan Yesus berkata Kamu adalah garam dan terang dunia. (Mat 5)  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.(ayat 15)
    Disaat dunia sedang kalut seperti sekarang ini, menjadi terang dunia adalah pilihan hidup sebagai Kristen. Lihatlah bagaimana paniknya masyarakat akibat berita penyebaran virus ini. Umat Kristen tak perlu ikut-ikutan panik mencari masker jika tidak sakit dan beresiko tinggi tertular virus. Tak perlu men-share berita berita heboh yang berkaitan dgn virus corona. Berita berita heboh hanya akan memicu kepanikan. Terang umat Kristen harusnya mengubah keadaaan suram ini.
   Menjadi garam berarti kehadiran kita haruslah "terasa" dan menjadi berkat serta membawa damai sejahtera bagi orang lain. Kalau garam itu hambar, dengan apakah ia diasinkan ? ucap Yesus. Kalau umat Kristen ikut ikutan panik, ikut ikutan menyerbarluaskan berita berita heboh yang mencemaskan. Garam yang tak asin akan dibuang, dan dinjak injak orang, lanjut Yesus
  Situasi masyarakat sekarang ini ibarat berjalan dalam kegelapan. Ia membutuhan lampu penerang agar dapat berjalan dengan selamat. Umat Kristenlah lampu penerang itu. Disaat dunia tengah dilanda kepanikan, fikiran gelap mata dan buntu akibat isu corona kitalah yang menjadi terang bagi mereka. Turutilah anjuran anjuran yang sudah disebarluaskan pemerintah, bagaimana cara mengantisipasi dan mencegah virus tersebut, rajin mencuci tangan. Bagaimana mangenali ciri ciri bila terserang virus tsb. Informasikan Rumah Sakit mana yang menjadi rujukannya sesuai anjuran pemerintah.
   Pemerintah juga mencanangkan isolasi diri, social distancing, jauhi keramaian untuk memutuskan mata rantai penularan. Gereja pun mereponnya dengan menyelenggarakan 'ibadah online'. Suatu langkah yang patut diapresiasi.

Khotbah yg disiarkan melalui You Tube dalam rangka Social Distancing
  
  Ingat pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia ini. Tertulis "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."(Rom 13:1). 
     Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? tanya Yesus (Mat 7:16). Inilah saatnya kita menunjukkan buah buah roh kita kepada masyarakat.  
     Dan yang terakhir, ingatkan untuk BERDOA, berikanlah ayat ayat Firman Allah untuk menjadi pegangan mereka. Ingatkan bahwa Allah akan tetap menyertai walau sesulit apapun masalah yang kita hadapi. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 23
        Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, 
        aku tidak takut bahaya, 
        sebab Engkau besertaku
        gada-Mu dan tongkat-Mu, 
        itulah yang menghibur aku.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati. Shaloom

Sunday, 1 March 2020

IMAN DAN SELEKSI PASUKAN GIDEON

Bacaan Hakim-hakim 7:2-7,
                 
     Dapatkah suatu peperangan dimenangkan tanpa menggunakan senjata ? Dapatkah sangkakala dan buyung kosong melawan tombak dan pedang ? Atau 300 orang personil mengalahkan ribuan pasukan ? Secara akal sehat jelas tidak mungkin. Itulah pergumulan iman yang harus dilewati saat membentuk pasukan Gideon.     
    Kejadian itu bermula saat bangsa Midian mulai menjarah tanah bangsa itu. Tidak terima dengan penjarahan tersebut, akhirnya tiga puluh dua ribu orang relawan Israel, siap dan ingin bergabung dengan Gideon. Namun....apa yang terjadi ? Setelah melalui proses seleksi Allah berulang kali, akhirnya yang tersisa hanya tiga ratus orang saja. Sekian puluh ribu orang dianggap gagal, dan disuruh pulang. Tidak dipakai Allah !
     Dengan kata lain, hanya 1% saja yang Tuhan pakai untuk berperang.
    
CARA ALLAH MENYELEKSI
     Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau.." Firman Tuhan pada Gideon," Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang." Mendengar itu, lalu pulanglah 22.000 orang, sisa 10,000 yang tinggal.
    "Masih terlalu banyak," Firman Tuhan pada Gideon."   jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, Suruhlah mereka turun minum air."
   Bisa dibayangkan bagaimana iman Gideon benar benar diuji waktu itu. Ia sudah mendapat laporan dari pasukannya, bahwa jumlah pasukan Midian telah bergabung dengan orang orang Amalek (7:12) Jumlah mereka puluhan bahkan ratusan ribu banyaknya. Tapi Allah kok justru malah mengurangi kekuatan pasukannya ?
  Lalu Berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum." Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air.
   Dari 32.000, susut menjadi 10.000.,,,dan kini hanya tinggal 300 orang.
  Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Dengan ketiga ratus orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya itu akan Kuselamatkan kamu: 


Menang Tanpa Pedang
    Sesudah itu Gideon mengatur ketiga ratus orang itu dalam tiga pasukan dan ke tangan mereka semuanya diberikannya sangkakala dan buyung kosong dengan suluh di dalam buyung itu. 
   Tentara Gideon melakukan serangan mendadak untuk mengejutkan lawan. Demikianlah ketiga pasukan itu maju bersama-sama dengan meniup sangkakala, dan memecahkan buyung dan memegang obor, sambil berseru: "Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!" 
   Akibatnya, seluruh tentara musuh menjadi panik dan kacau balau. Mereka berteriak-teriak dan melarikan diri. Saat ketiga ratus orang itu meniup sangkakala, maka di perkemahan itu TUHAN membuat pedang musuh saling membunuh, sehingga larilah tentara Midian sampai ke Bet-Sita ke arah Zerera sampai ke pinggir Abel-Mehola dekat Tabat.
   300 Pasukan Gideon berhasil mengusir ribuan pasukan Midian

Ujian Iman Gideon 
   Apa yang bisa kita petik dari kisah Gideon diatas. Jawabannya adalah IMAN. Iman artinya Percaya. Gideon percaya kpd Allah ketika pasukannya dipangkas hingga tinggal 300 personil. Ia juga percaya ketika senjata yang diperbolehkan Allah hanyalah sangkakala. buyung kosong dan suluh  (obor)
   Karena Iman, Abraham yang tua renta serta Sara yang sudah menopause, Percaya akan janji Allah. Bahwa ia akan mempunyai keturunan. (Ibr 11:11)
  Karena Iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya oleh pasukan Israel
   Seperti kata Paulus dalam Ibrani 11:32-34: “Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing
   Oleh karena itu, memasuki Minggu Passion ini, marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, (Ibr12:2)
  Saat ini dunia tengah dilanda isu pandemi virus Corona. Beberapa negara, seperti Italia, Filipina dan Arab Saudi, telah menerapkan kebijakan lockdown. Hal itu dilakukan guna mengurangi penyebaran kasus virus corona atau Covid-19 di negara mereka.
 Indonesia juga tak luput dari serangan pandemi ini. Bahkan kabar terakhir,Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi positif terjangkit virus corona (COVID-19). Ia merupakan pasien positif COVID-19 No.76. 
   Hingga kini belum ada obat untuk mengatasi Virus Corona ini. Kita hanya dapat mencegahnya saja. Untuk sementara ini kita hanya dapat berdoa kiranya para ilmuwan dapat mengatasi permasalahan ini  

Baca juga: VIRUS CORONA DAN ETIKA KRISTEN

    Mintalah pertolongan pada Tuhan....seperti Gideon, yang secara akal sehat tidak mungkin dapat mengalahkan pasukan Midian dan Amalek. begitu juga kita dalam menghadapi pandemi virus Corona ini. Bagi Tuhan, tiada yang mustahil. 
    Kita sudah diingatkan dalam Yak 1:6 tertulis, 'Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin."
     Itulah sebabnya kita mengucapkan Amen, setiap selesai berdoa. Kata Ibrani 'AMEN berasal dari kata kerja 'AMAN, "percaya", "mempercayai". Dari akar kata inilah terbentuk kata "IMAN".

   
   Amen...Tuhan berkati. Shalom


Monday, 24 February 2020

ISRAEL DAN TIANG API

   Bacaan:    Kel. 13:22 TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.

     Tiang api (bahasa Inggris: Pillar of fire) adalah salah satu manifestasi Allah (teofani) dalam kitab Taurat, atau kitab Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Menurut Kitab Keluaran,ketika bangsa itu keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa, Tiang Awan menuntun umat Israel pada siang hari dan berubah menjadi Tiang Api pada malam hari. Sehingga dengan demikian bangsa itu "dapat berjalan siang dan malam"
     Jika Anda berjalan di padang pasir, maka ilmu Navigasi wajib Anda pelajari. Bagi para petualang, ilmu ini sangat penting dan wajib dikuasai, minimal dimengerti. Ilmu navigasi dapat menentukan arah, inilah yang membuat navigasi menjadi sangat krusial. Dengan mengetahui ilmu navigasi, kita juga dapat meminimalisir kejadian 'tersesat'. Untuk menentukan suatu tempat dan memberikan bayangan medan yang akan dilalui, maka diperlukan bantuan peta dan kompas.
     Bangsa Israel tidak mengerti apa itu Ilmu Navigasi, karena 400 tahun mereka menjadi budak di Mesir. Mereka tak sempat mempelajari ilmu ini, bahkan mereka tidak pernah punya pengalaman bejalan di padang gurun yang panas. Mereka juga tidak bawa peta, karena tak seorangpun dari mereka pernah ke Tanah Kanaan.
     Lha...bagaimana bangsa yang tidak mengerti ilmu navigasi bisa berjalan dan selamat sampai ke perbatasan Tanah Kanaan ?. Disitulan peran Tiang api. Tiang itulah yang menuntun bangsa Israel. Tiang itulah pedoman mereka. Tertulis dalam Keluaran 13:22 "Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di DEPAN bangsa itu."
     Video dibawah ini membuktikan bahwa dari segi ilmiah, keberadaan Tiang Api itu bisa dipertanggungjawabkan. Laut Teberau yang terbelah, Tiang Awan dan Api, semua itu bukan dongeng anak anak pengantar tidur. Alkitab bukan kumpulan cerita FIKSI, tapi FAKTA. 
         Mujizat itu nyata...

        Apa hikmah yang bisa kita dapat dari peristiwa Tiang Api dan Israel itu? Jawabannya ialah: Allah lah pedoman hidup kita. Allah, yang dinyatakan dalam AnakNya Tuhan Yesus Kristus, itulah Tiang Api kita
   Dia tak membiarkan panasnya gurun pasir menyiksa bangsaNya, dilindungiNya bangsa itu dengan Tiang Awan.
     Dia juga tak membiarkan malam yang dingin menyengat, dihangatkanNya bangsa itu dengan Tiang Api.
      Yesus Kristus adalah Firman Allah, dan Dia sudah menunjukkan arah yang benar saat Ia berkata "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Joh 14:6)
        Amin...Tuhan berkati.

Wednesday, 19 February 2020

MEDSOS DAN PERKABARAN INJIL

Bacaan: Mat 28:19: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka      dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
                                                                                                                   

     Media sosial  adalah sebuah media daring (online), dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.(Wikipedia)
    Atau...dengan bahasa awamnya Media Sosial atau Medsos adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain, dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.
     Medsos meghapus batasan-batasan manusia untuk bersosialisasi, batasan ruang maupun waktu. Dengan medsos, manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun mereka bereda dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam. 
    Contohnya, saya kini bisa berkomunikasi langsung dengan menggunakan video call dengan anak saya yang kebetulan kost di Jogja. Juga teman saya, tidak perlu menyewa kios, cukup dengan menggunakan fitur Facebook, Instagram atau Whatsapp dia udah bisa  jualan baju, sepatu dll. 
     Tapi semua kecanggihan itu ada sisi negatip nya. " Ada dua tanda penting di zaman ini," ucap Francis A. Schaeffer." Pertama PESATNYA KEMAJUAN IPTEK dan yang kedua KEHANCURAN MORAL. Dan keduanya saling berkaitan."
   Tekhnologi Android di Medsos memang benar benar membuat revolusi peradaban kita. Tapi ingat, jika kita terlalu "asyik" dengan dunia maya, sehingga membuet kita menjadi acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar, tidak sedikit pula kerugian yang akan kita dapat, misalnya seperti kecanduan gadget, sulit bergaul di dunia nyata, autis, dll. Belum lagi maraknya konten berita berita HOAX, berita berita yang penuh degan ujaran kebencian, pornografi dsb. Semua itu sisi negatif dari Medsos


                                      Bahan Renungan PA Keluarga (PJJ) Tahun 2020
Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus
     Dalam Alkitab Perjanjian Baru diceritakan, sebelum Tuhan Yesus  naik ke surga, Ia memberikan “Amanat Agung” kepada murid-murid-Nya (Mat. 28:18,19; Mrk. 16:15) Amanat tersebut tidak hanya berlaku pada masa itu saja, tetapi tetap berlaku hingga sekarang. Amanat Agung berfokus pada dua hal yaitu Pemberitaan Injil dan Pemuridan, sasarannya adalah supaya seluruh dunia dapat menerima keselamatan yang ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. 
      Perintah yang sama juga diberikan kepada orang-orang Kristen di Era Milenium dan serba canggih sekarang ini. Oleh karena itu setiap orang Kristen diharapkan terlibat langsung  dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang mulia ini. Amanat Agung adalah pokok dalam kekristenan, dan sangat penting. Manfatkanlah kecanggihan Medsos, dan "tekhnologi informasi" untuk menyampaikan Injil pada dunia.

Baca juga: PRO KONTRA IBADAH ONLINE

SERMON ONLINE GBKP
     Oleh karena itu, sebagai warga Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saya memberikan apresisasi atas kebijakan Moderamen GBKP yang berinisiatip membuat Sermon Online, dengan menggunakan media You Tube.
    Terlebih GBKP telah mencanangkan tahun Gereja 2020," Meningkatkan kemampuan warga GBKP dengan penglolaan informasi dan ketrampilan, dalam penggunaan Tekhnologi Informasi.". Misi itu tercermin dalam sampul buku PJJ tahun 2020 diatas. Gambar Alkitab ditengah tengah, dikelilingi oleh ikon ikon Medsos.
     Medsos adalah pemberian Tuhan yang dihasilkan melalui akal dan pikiran manusia. Ber-medsos juga adalah ibadah, karena ibadah bukan hanya hari Minggu di gereja. Tapi dalam setiap segi kehidupan kita.
      Jika dahulu waktu, jarak, biaya, budaya, keluarga, dan keterbatasan wacana menjadi alasan bagi banyak orang percaya menjadi enggan untuk bermisi dan bersaksi bagi Kristus, kini hal-hal itu bukan lagi masalah yang signifikan. 
   Teknologi dan arus informasi telah menjadi suatu bantuan yang amat signifikan bagi gereja untuk melaksanakan tugas Amanat Agung. Melalui teknologi serta pemanfaatan berbagai platform media sosial, kita dapat meneriakkan pesan Injil secara keras dan luas untuk menyampaikan Kabar Baik kepada mereka yang belum mengenal dan belum mengikut Kristus. Segalanya sudah tersedia bagi kita. 
     Kiranya warga GBKP dapat lebih dewasa dan bijak dalam menggunakan Medsos, terlebih dalam mengemban misi Amanat Agung Tuhan kita, Yesus Kristus.
      Amin