Pages

Subscribe:

Friday, 13 March 2020

POHON ARA YANG TIDAK BERBUAH

Bacaaan: Matius 21 dan Markus 11

     Dalam kisah perjalanan Tuhan Yesus, ada tertulis kisah pohon ara yang tidak berbuah. Yang achirnya dikutuk Tuhan Yesus dan menjadi kering. Tertulis dalam kitab Matius 21 dan Markus 11,kisah pohon Ara yang tidak berbuah ini mengundang pertanyaan bila dicermati. Misalnya megapa Tuhan Yesus mencari buah ara, sementara saat itu belum musimnya.  "...Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara." (Mark 11:13) Yesus pasti paham siklus alam pohon ara karena Dia adalah Tuhan yang Mahatahu.
   Diceritakan, saat itu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan dari Betani ke Yerusalem. Di tengah jalan Dia merasa lapar. Lalu Yesus melihat sebuah pohon ara yang sudah berdaun, lalu Dia pun menghampiri pohon itu. Ia berharap kalau-kalau mendapat sesuatu yang bisa dimakan. Tetapi...alangkah kecewanya Yesus. Dia tidak mendapat  apapun pada pohon tersebut, kecuali hanya daun daun yang berserakan. Waktu itu memang bukan musim buah ara.  Biasanya menjelang musim buah ara, pohon ara akan mengeluarkan daun-daun dan putik-putik yang bentuknya menyerupai buah kecil. Putik-putik ini bisa dimakan dan akan gugur dengan sendirinya apabila buah ara mulai muncul. Putik putik inilah yang dicari Tuhan Yesus untuk dimakan. Tapi...apabila ada pohon ara yang tidak mengeluarkan putik, itu menandakan pohon ara itu tidak akan berbuah, sekalipun pada pohon itu berdaun lebat.
     Maka berkatalah Tuhan Yesus pada pohon ara itu:”Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Maka seketika itu juga, keringlah pohon ara itu. Para murid yang melihat kejadian itu menjadi tercengang.
                         

Gambar oleh Deedster dari Pixabay 

     Kisah pohon ara yang tidak berbuah ini sebenarnya mengandung makna simbolis. Pohon ara berdaun lebat itu maksudnya menunjukkan dari segi penampilan, pohon itu tergolong baik, subur dan indah dipandang mata........ tetapi tidak berbuah. Ini  adalah gambaran orang-orang yang rajin beribadah, tekun menjalankan aturan-aturan keagamaan, tetapi hidupnya tidak berbuah, tidak membawa berkat bagi sekelilingnya. 
     Sepintas kelihatannya saleh, tetapi kesalehannya itu kosong di mata Allah. Sebab ibadah sejati bukanlah soal menjalankan rangkaian aturan keagamaan, melainkan mencakup dalam hidup sehari-hari. Dalam pekerjaan, kehidupan sosial dan lain sebagainya.
     Itulah yang terjadi pada ibadah umat Israel pada zaman Yesus. Mereka hanya terpaku pada soal menjalankan aturan peraturan lahiriah semata tapi melupakan penerapannya. Praktek ibadah seperti inilah yang dilakukan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Dengan cerita Tuhan Yesus mengutuk pohon ara ini, para penulis Injil rupanya juga hendak mengoreksi praktek ibadah tersebut.
     Orang orang yang bermental 'pohon ara yang tidak berbuah', hingga kini sebenarnya masih sering kita jumpai. Sepintas mereka kelihatan rohani sekali: rajin dan taat melakukan acara dan aturan kegamaan, tetapi praktek kehidupan sehari-harinya penuh tipu daya dan kesewenangan. Di mulut senang menyebutkan nama Tuhan dan mengutip ayat ayat Alkitab, tetapi dalam hati dan pikiran yang penuh sumpah serapah.
     Berbeda dengan orang-orang yang aktif karena betul-betul mau melayani sebagai ungkapan syukurnya kepada Tuhan. Mereka biasanya tidak banyak bicara yang tidak perlu, karena memang tujuannya bukan untuk mencari nama. Tentu mereka juga punya pendapat dan keinginan, tetapi mereka akan menempatkannya dalam kerangka kepentingan orang banyak, bukan kepentingan diri sendiri. Mereka biasanya tidak segan segan untuk mengalah kalau memang perlu. Mereka selalu melihat orang-orang disekelilingnya dengan kacamata positif thinking. Kehadiran mereka selalu membawa berkat dan damai sejahtera. Ibarat lampu terang yang kehangatannya dapat dirasakan lingkungan sekitar. Ada rasa damai dan sukacita yang mereka bawa.

       Baca Juga: Kota Jericho dan Garam Dunia


     Hidup didalam Tuhan tidak cukup hanya bertumbuh dan berdaun lebat saja. Tapi kita harus menghasilkan buah. Hidup kita harus bisa menjadi berkat buat orang lain. Jika seseorang mengaku bahwa hidupnya sudah dipimpin oleh Tuhan, maka sudah seharusnya ia menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatannya. Tumbuhan yang dirawat, selalu diberi pupuk dan disiram, bukan hanya untuk menumbuhkan batang dan daunnya saja, namun juga untuk menghasilkan buah.  Firman Tuhan yang kita terima sebagai “makanan” bagi rohani dan jiwa kita, bukan hanya untuk membuat iman kita bertumbuh, namun berbuah juga. Dan buah itu... akan tercermin dalam tingkah laku kita.
     Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? tanya Yesus (Mat7:16)  Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik, ujar Tuhan Yesus, saat berkhotbah dibukit
   "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan," ujar Yohanes Pembaptis (Mat 3:8)."Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Selamat beraktiftas, Shalom...GBU

     

1 comments:

Post a comment